Perilaku Bias Investor Muda Dalam Berinvestasi

Investasi adalah penanaman dana yang dilakukan individu atau perusahan ke dalam aset guna untuk memperoleh return yang besar di masa yang akan datang. Penciptaan iklim investasi yang baik sebagai salah satu faktor pendorong tercapainya pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan mengundang ketertarikan sebagian besar investor untuk menanamkan modalnya. Pada hakekatnya investasi memiliki risiko yang tinggi sekaligus juga memiliki tingkat pengembalian yang tinggi. Keberhasilan berinvestasi sangat dipengaruhi oleh ketepatan para investor dalam melakukan pengambilan keputusan. Jumlah penduduk Indonesia di usia muda cukup banyak maka investor muda merupakan pasar besar untuk target menarik mereka melakukan investasi.

Namun demikian untuk menarik investor muda tidaklah mudah, karena dalam investasi melibatkan risk dan return yang saling terikat. Perilaku investor muda yang cenderung  beranggapan bahwa berinvestasi di pasar modal akan mendapatkan keuntungan tanpa memikirkan risiko atau kerugian yang diterima dimasa mendatang akan membuat mereka sering kali mengalami kerugian atau kegagalan. Kegagalan tersebut kebanyakan dipengaruhi oleh faktor internal investor yang lebih dikenal dengan perilaku bias.  Perilaku bias (behavioural biases) dalam berinvestasi terdiri dari bias kognitif dan bias emosi. Bias kognitif adalah kecenderungan seseorang mengambil keputusan berdasarkan persepsi mereka sendiri, sedangkan bias emosi adalah kecenderungan seseorang mengambil keputusan berdasarkan perasaan atau emosi mereka. Perilaku bias yang dimiliki para investor karena usianya tergolong muda mengakibatkan mereka cenderung memiliki tingkat emosi yang tinggi dan tidak terkontrol dalam mengambil sebuah keputusan berinvestasi dengan cepat. Beberapa perilaku bias yang  dapat mempengaruhi investor muda dalam berinvestasi adalah sebagai berikut :

  • Overconfidence adalah kepercayaan diri investor yang menganggap informasi yang dimilikinya lebih tepat daripada keadaan yang sebenarnya biasanya muncul karena pengalaman yang telah dialaminya (Pompian, 2006). Menurut Shefrin (2007) terdapat dua karakteristik overconfidencebias yaitu terlalu percaya diri terhadap kemampuan atau overconfidence about ability dan terlalu percaya diri terhadap pengetahuan atau overconfidence about knowledge. Orang yang merasa terlalu percaya diri terhadap kemampuannya menganggap diri mereka lebih baik daripada orang lain yang paham sebenarnya, sedangkan orang yang merasa terlalu percaya diri terhadap pengetahuannya menganggap diri mereka tahu lebih banyak dari orang lain.
  • Disposition effect adalah kecenderungan seorang investor untuk menjual sahamnya dengan cepat pada saat mengalami kenaikan, sedangkan menahannya pada saat mengalami penurunan dengan harapan harganya akan kembali naik (Shefrin & Statman, 1985). Hal tersebut sering terjadi pada investor muda, mereka cepat merasa puas terhadap keuntungan yang didapatnya dan lalu menjualnya.
  • Anchoring bias adalah fenomena yang digunakan dalam situasi ketika seseorang menggunakan penilaian awal mengenai harga beli investasi untuk membuat estimasi dalam berinvestasi setelahnya (Luong, et., al., 2011). Investor dituntut untuk dapat merespon berbagai informasi dan lalu mengolahnya. Dengan banyak informasi yang didapat dan didukung dengan proses pengolahan informasi yang tepat maka akan menghasilkan sebuah keputusan yang tepat dan akurat, sehingga dapat menghasilkan keuntungan.
  • Representativeness bias adalah perilaku pengambilan keputusan yang berdasarkan pengalaman masa lalu investor yang menyebabkan salah dalam pembuatan keputusan.
  • Herding merupakan perilaku investor yang awalnya berfikir secara rasional menjadi irrasional dengan meniru perilaku investor lain dalam membuat keputusan berinvestasi. Membeli atau menjual investasinya berdasarkan informasi yang kolektif sehingga dapat mengakibatkan harga suatu sekuritas dapat naik atau turun dengan tiba-tiba.

Jadi investor yang paling potensial untuk mendapat edukasi tentang pentingnya pengambilan keputusan untuk melakukan investasi adalah kalangan muda yang muda yang sering berfokus pada cara mendapatkan return yang besar dan cepat sering beranggapan bahwa berinvestasi di pasar modal akan mendapatkan keuntungan tanpa memikirkan risiko kerugian yang diterima dimasa mendatang, inilah yang membuat mereka sering kali mengalami kegagalan. Perilaku bias merupakan penyebab dominan dari kegagalan berinvestasi. Perilaku bias (behavioural bias) menunjukkan bahwa faktor psikologis investor mempengaruhi keputusan investasi mereka. Investor tidak selalu rasional dalam menentukan keputusan investasi mereka. Bias dapat diartikan sebagai penyimpangan dari proses pengambilan keputusan yang tepat dan optimal. Di dunia nyata, rasionalitas sulit didefinisikan karena perilaku manusia tidak dapat diprediksi, dan perilaku bias menyebabkan inefisiensi serta kebingungan pasar. Untuk itu, penting bagi investor khususnya generasi muda untuk mengetahui dan memahami jenis perilaku bias yang dapat mempengaruhi keputusan investasi.

Penulis : Ira Wikartika

Sumber gambar: ekbis.sindonews.com

Related Post

Leave a Comment

Kantor Pusat

PT. JEPE PRESS MEDIA UTAMA
Alamat: Jl. Karah Agung 45, Surabaya
Telepon: 031-8289999 (ext: 303)
Fax: 031-8281004
Jam kerja 08.00 – 17.00